SEPUTAR KELAHIRAN YESUS

No comment 237 views


Oleh: Izhar Ilyas Sinaro Alam

Alumni Perguruan Muhammadiyah Kauman Padang Panjang Sumbar

 

Sesuai iman Kristen, kedatangan Yesus Kristus telah dinubuat dalam Perjanjian Lama, Kitab Yesaya Pasal 7 ayat 14. Namun sangat disayangkan, ihwal kelahiranNya hanya dimuat dalam Injil Matius dan Injil Lukas, sementara Markus dan Yohanes tidak menukil peristiwa bersejarah tersebut dalam Injil mereka. Sesuatu yang memang patut dipertanyakan. Terlebih sebagai Injil tertua, kenapa Markus sampai tidak mewartakan peristiwa yang sangat penting dan amat bersejarah bagi kekristenan tersebut dalam Injilnya.

Agar bisa melihat lebih jelas peristiwa kelahiran Yesus, penulis merasa perlu untuk menyalin utuh perikop Kelahiran Yesus Kristus Injil Matius 1:18-25, berikut petikannya: “Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, IbuNya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umatNya dari dosa mereka.

Hal itu tertjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” – yang berarti: Allah menyertai kita.

Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.”

Alkitab lebih lanjut menjelaskan bahwa Yesus lahir di kota Betlehem di negeri Yudea pada masa pemerintahan Raja Herodes. Hal demikian tertera dalam Injil Matius 2:1-2; “Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerussalem dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintangNya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”

Seperti terbaca, Alkitab samasekali tidak menjelaskan tanggal, bulan dan tahun kelahiran Yesus. Terkait demikian John Dickson seorang sejarawan dalam bukunya Investigating Jesus, Lion Hudson plc, Oxford, England, kemudian Dono Jaya menerjemahkan; Menyelidiki Kesejarahan Yesus, Pencariaan Seorang Sejarawan, penerbit Yayasan Komunikasi Bina Kasih Jakarta, pada halaman 50 terjemahan buku tersebut Dickson menyatakan; “Yesus dilahirkan sekitar 4 SM, dekat dengan tahun kematian Herodes Agung.”

Berpijak pada dua kesaksian di atas, pertama dari kitab suci Perjanjian Baru dan kedua dari sisi historisitas, maka tidak tertampik bila perayaan natal atau hari kelahiran Yesus Kristus yang dirayakan pada setiap tanggal 25 Desember selama ini, sama sekali tidak punya dasar atau kekuatan hukum. Dan seperti telah menjadi perbincangan berbagai pihak sejak lama, sejatinya “natalan” diadopsi dari hari kelahiran Dewa Mithra sembahan orang Romawi.

Memperkuat pengadopsian tersebut, W.R.F Browning dalam bukunya Kamus Alkitab: A Dictoinary of the Bible; terjemahan Liem Khiem Yang dan Bambang Subandrijo, PT BPK Gunung Mulia Jakarta. Pada entri Mithras, Browning menjelaskan: “Sejumlah ahli Jerman pada dekade-dekade awal abad ke-20 mengajukan pendapat mereka bahwa ada pengaruh agama Mithras atas perkembangan *sakramen kekristenan. Perayaan Natalis Solis Invicti dari Mithras, pada tanggal 25 Desember diambil-alih menjadi hari Natal Kristen oleh Gereja abad ke-4 M.”

W.R.F Browning yang pendapatnya penulis kutip di atas, dikenal sebagai pendeta jemaat Gereja Anglikan pada Katedral Blackburn dan Katedral Gereja Kristus Oxford.  Selain itu beliau juga telah berbilang tahun mengajar mata kuliah Perjanjian Baru di Cuddesdon College Oxford dan pascasarjana di Oxford University.

Selain persoalan yang telah dikemukakan di atas, satu hal yang tidak kurang penting untuk kemudian kita perbincangkan pada seputar kelahiran Yesus Kristus ini adalah perihal “sunatan”. Dari sisi keyahudian hal tersebut merupakan sesuatu yang mutlak untuk harus dilakukan. Namun berbeda dengan Lukas, ternyata Matius tidak sedikit juga memuat hal tersebut dalam Injilnya.

Seperti apa ketentuan-ketentuan yang luput dari pewartaan Matius tersebut, berikut mari kita simak Injil Lukas 2:21-24: “Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibuNya. Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkanNya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”, dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.”

Terkait penyampaian penulis di atas, mungkin ada “orang” yang nyeletuk; Bila Lukas telah memberitakan hal tersebut dalam Injilnya, lalu bukan berarti Matius telah bersalah tersebab tidak mewartakannya. Dalam konteks demikian, bukankah tidak ada yang luput atau tercecer dari pemberitaan Injil atas diri Yesus Kristus.

Menyikapi nyeletukan tersebut penulis bertanya; Benar! Namun, mana yang lebih penting pemberitaan pelaksanaan hukum Taurat Musa atas diri Yesus Kristus dibanding pemberitaan tentang Yohanes Pembaptis. Bila pemberitaan mengenai Yohanes pembaptis “diliput” oleh ke empat penulis Injil; Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Sementara pelaksanaan hukum Taurat Musa atas diri Yesus Kristus kok hanya diberitakan oleh Lukas seorang diri.

Padahal, bukankah bersunat merupakan perjanjian Allah dengan Abraham. Hal tersebut termaktub dan terbaca dalam Kitab Kejadian 17:10-11: “Inilah perjanjianKu, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu.” Mematri perjanjian tersebut lebih lanjut pada ayat 14 tegas dinyatakan: “Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari pernjanjianKu.”

Selain persoalan bersunat, selanjutnya penulis menemukan pewartaan kontradiktif antara Matius dengan Lukas tentang keberadaan Yesus pascakelahiranNya. Untuk melihat seperti apa percanggahan pemberitaan tersebut, lebih dahulu mari kita baca Injil Matius 2:13-15: “Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf  dalam mimpi dan berkata: “Bangunlah, ambillah anak itu serta ibuNya, larilah ke Mesir dan tinggalah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibuNya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Dari Mesir Kupanggil AnakKu.”

Berbeda dengan Matius, Lukas dalam Injilnya samasekali tidak pernah berkisah tentang Yesus “hijrah” ke Mesir tersebut. Dalam pewartaan Lukas, setelah Yesus selesai melaksanakan segala sesuatu terkait hukum Tuhan, Ia langsung dibawa orang tuaNya ke Nazaret. Untuk lebih jelas mari kita baca Injil Lukas 2:39-40: “Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah kepadaNya.” Memperjelas perbedaan, malah kata Mesir pun tidak  terdapat dalam Injil Lukas.

Menyikapi kontradiksi perkabaran tentang keberadaan Yesus Kristus pascakelahiran sebagaimana diungkap di atas, lantas pemberitaan siapa yang harus “diimani”; Yesus menyingkir ke Mesir untuk kemudian berpindah ke Nazaret sebagaimana tertulis dalam Injil Matius dan atau Yesus tetap berada di Betlehem untuk kemudian setelah melakukan segala sesuatu menurut hukum Tuhan dibawa pulang orang tuaNya ke Nazaret seperti termaktub dalam Injil Lukas. Dalam konteks kitab suci, hal tersebut tentu bukan pilihan yang ringan. Wallahu a’lam bishawab.

banner 468x60
author
Redaktur Pelaksana Majalah Tabligh. Pendiri Komunitas Homeschooling Keluarga Muslim (HSKM) dan Komunitas Ekonomi Islam Indonesia (Koneksi Indonesia)
No Response

Leave a reply "SEPUTAR KELAHIRAN YESUS"