PERAN INTUISI DALAM SAINS

No comment 231 views


Banyak orang berpikir bahwa kegiatan sains adalah kegiatan yang murni rasional dan empirik. Kegiatan ini juga dianggap menggunakan dengan analisis yang hati-hati sehingga terhindar dari pengaruh perasaan atau subjektivitas pribadi. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Dalam sains unsur kreativitas termasuk intuisi sangat berpengaruh.

Apabila kita melihat metode saintifik yang biasa digunakan mulai dari observasi umum, hipotesis, eksperimen sampai pada kesimpulan, maka dimensi kreatif setidaknya muncul dalam penyusunan hipotesis. Memang benar bahwa hipotesis disebut sebagai tebakan ilmiah (educated guess), namun demikian pada kenyataannya ada hipotesis-hipotesis yang sulit dijelaskan secara ilmiah namun dengan metode saintifik dibuktikan kebenarannya.

Dimensi kreatif dalam sains tersebut adalah intuisi. Intuisi sendiri adalah kemampuan untuk memperoleh pengetahuan tanpa bukti, tanpa penalaran, atau tanpa memahami bagaimana pengetahuan tersebut diperoleh. Kata intuisi berasal dari kata kerja bahasa latin itueri yang berarti “mempertimbangkan” atau dari bahasa Inggris kuno intuit yang berarti “merenungkan”.

 

Intuisi dalam Sains Barat

Di Barat sendiri, ada beberapa contoh di mana intuisi membantu perkembangan sains. Dmitri Ivanovich Mendeleev, seorang guru kimia di Rusia yang ketika itu sedang menulis buku “Prinsip-prinsip Kimia”. Pada buku tersebut ia berusaha mengklasifikasi zat-zat berdasarkan sifat kimianya sehingga ia menyusun tabel periodik. Ia mengaku bahwa melihat urutannya secara lengkap dalam mimpinya.

Ia mengatakan, "Saya melihat dalam mimpi sebuah bagan di mana semua elemen berada pada tempat yang seharusnya. Ketika terbangun, saya langsung menuliskannya pada selembar kertas. Hanya pada satu tempat, saya melakukan surat koreksi tampaknya diperlukan."

Selain susunan dalam tabel periodik tersebut memang menggambarkan sifat zatnya, dengan tabel tersebut Mendeleev juga memprediksi sifat-sifat zat yang belum diketahui yang diduga kelak akan mengisi kekosongan pada tabel periodiknya. Banyak dari prediksinya itu belakangan terbukti benar.

Pada tahun 1865, seorang saintis Jerman, Friedrich August Kekule, menemukan struktur benzena (C6H6) setelah bertahun-tahun menelitinya. Pada seminar ulang tahun kedua puluh lima penemuan struktur benzena tahun 1890, Kekule menceritakan bagaimana ia menemukan gagasan mengenai struktur benzena yaitu ketika ia sedang bermimpi. Ia memimpikan melihat simbol uroboros atau ular yang menggigit ekornya sendiri. Itu yang menjadi inspirasi baginya mengenai struktur benzena yang memang melingkar.

Intuisi dalam level ini sebenarnya dapat dimiliki oleh siapapun. Baik muslim ataupun non muslim. Hal ini karena sebenarnya intuisi yang diperoleh sebenarnya berasal dari pengalaman dan pengetahuan diri sendiri yang diolah oleh alam bawah sadar lalu muncul tiba-tiba. Hal ini bisa terjadi pada orang-orang yang memang selalu merenungkan tentang hal tersebut.

 

Intuisi dalam Sains Islam

Intuisi dalam sains Islam mendapatkan posisi yang cukup penting. Namun demikian dalam Islam, intuisi terjadi dalam beberapa level. Apa yang dialami oleh orang-orang barat adalah intuisi pada level yang paling rendah. Pada tingkat kebenaran yang lebih tinggi, intuisi tidak datang pada sembarangan orang. Intuisi merupakan ilham yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada orang yang memang telah mempersiapkan diri.

Intuisi adalah pengetahuan diterima melalui pandangan batinnya, yakni dzauq, yang dialaminya secara langsung akibat penyingkapan hijab yang menyelubungi alam hakiki kandungan ilmu, yakni kasyf. Pada level ini bahkan pengetahuan yang berasal dari intuisi merupakan pengetahuan yang lebih tinggi dibandingkan pengetahuan yang dihasilkan akal dan indera.

Imam Al Ghazali, sebagaimana diceritakan dalam kitabnya Al-Munqidz min al-Dhalal, pernah mengalami keraguan dalam perjalanan hidupnya terhadap kebenaran akal dan indera. Ternyata akal dan indera masih mungkin bisa tertipu. Kebenaran dapat diperoleh dengan melakukan penyucian hati sehingga tersingkaplah kebenaran melalui cahaya yang diberikan Allah dan ini adalah kebenaran yang hakiki.

Sebenarnya apa yang diungkapkan Al Ghazali ini bukanlah sesuatu hal yang baru. Allah pernah berfirman dalam hadits qudsi bahwa Allah akan menjadi penglihatan dan pendengaran siapa saja yang dicintai-Nya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya Allah ta’ala berfirman : Siapa yang memusuhi waliku maka Aku telah mengumumkan perang dengannya. Tidak ada taqarrubnya seorang hamba kepada-Ku yang lebih aku cintai kecuali dengan  beribadah dengan apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hambaku yang selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan nawafil (perkara-perkara sunnah di luar yang fardhu) maka Aku akan mencintainya dan jika Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, tangannya yang digunakannya untuk memukul dan kakinya yang digunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepadaku niscaya akan aku berikan dan jika dia minta perlindungan dari-Ku niscaya akan Aku lindungi.” [HR. Bukhari]

وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [QS Al Baqarah: 282].

“Hati- hatilah dengan firasat orang yang beriman, karena dia melihat dengan cahaya Allah.” [HR Tirmidzi]

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِلْمُتَوَسِّمِينَ

“Sesungguhnya pada peristiwa itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda “Al Mutawassimin” (QS Al Hijr: 75).

Al Mutawasimin menurut pengertian ulama adalah orang-orang yang mempunyai firasat, yaitu mereka yang mampu mengetahui suatu hal dengan mempelajari tanda-tandanya.

Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.” [HR. Muslim]

Dari dalil-dalil di atas, sebenarnya kita sudah dapat melihat bahwa Allah akan memberikan ilmu tertentu pada orang-orang yang dicintai-Nya. Kecintaan Allah tersebut terwujud dari sikap ihsan dalam beribadah. Ini dapat dipandang sebagai karamah dari Allah. Berkaitan dengan karamah, Umar bin khattab dikisahkan memiliki karamah ini.

Suatu ketika Umar bin Khattab RA mengangkat Sariyah bin Zanim al-Khalji sebagai pemimpin salah satu angkatan perang kaum muslimin untuk menyerang Persia. Di Gerbang Nihawan, Sariyah dan pasukannya terdesak karena jumlah pasukan musuh yang sangat banyak, sehingga pasukan muslim hampir kalah. Sementara di Madinah, `Umar naik ke atas mimbar dan berkhutbah. Di tengah-tengah khutbahnya, ‘Umar berseru dengan suara lantang, "Hai Sariyah, berlindunglah ke gunung. Barang siapa menyuruh srigala untuk menggembalakan kambing, maka ia telah berlaku zalim!" Allah membuat Sariyah dan seluruh pasukannya yang ada di Gerbang Nihawan dapat mendengar suara Umar di Madinah. Maka pasukan muslimin berlindung ke gunung, dan berkata, "Itu suara Khalifah Umar." Akhirnya mereka selamat dan memperoleh kemenangan.

Umar yang berada di Madinah dibukakan pandangannya oleh Allah, sekaligus suaranya bisa terdengar oleh pasukannya. Dalam hal ini tentu Umar adalah seorang hamba yang dicintai oleh Allah. Hanya saja sebagai karamah ia bukanlah sesuatu yang dapat dikendalikan, karamah itu datang kalau Allah menghendaki saja.

Para ulama tidak luput untuk senantiasa memohon petunjuk dari Allah dengan cara shalat ketika mencari ilmu. Imam Bukhari pernah mengatakan, “Saya susun kitab Al-Jami’ as-Shahih ini di Masjid al-Haram, Mekkah dan saya tidak mencantumkan sebuah hadits pun kecuali sesudah shalat istikharah dua rakaat memohon pertolongan kepada Allah, dan sesudah meyakini betul bahwa hadits itu benar-benar shahih”.

Sumber ilmu berupa intuisi ini berlaku juga dalam konteks sains. Sebagai contoh misalnya, Ibnu Sina dikisahkan senantiasa berwudhu dan shalat sunah dua rakaat setiap kali menemui jalan buntu ketika menulis dan meneliti. Sering kali Ibnu Sina mendapatkan jawaban atas permasalahan-permasalahan yang dihadapinya ketika sedang shalat atau sedang tidur.

 

Penutup

Umat Islam adalah umat yang memiliki sumber ilmu yang lengkap. Tidak seperti barat yang hanya mengandalkan akal dan indera saja, umat Islam juga mengakui Allah menurunkan wahyu dan ilham. Ilham yang ditangkap oleh intuisi manusia yang dicintai oleh Allah adalah sumber pengetahuan juga, termasuk di bidang sains. Orang barat saja tidak memungkiri ada intuisi yang mereka sebut dengan aspek kreatif. Tentu orang Islam seharusnya tidak boleh kalah dalam hal ini. Dalam melakukan penelitian-penelitian sains, seorang muslim tidak boleh terputus dalam memohon petunjuk dari Allah subhanahu wa ta’ala. [mrh]

banner 468x60
author
Redaktur Pelaksana Majalah Tabligh. Pendiri Komunitas Homeschooling Keluarga Muslim (HSKM) dan Komunitas Ekonomi Islam Indonesia (Koneksi Indonesia)
No Response

Leave a reply "PERAN INTUISI DALAM SAINS"