MENJAWAB KERAGUAN, MENGUKUHKAN KEYAKINAN



Oleh, Irfan Habibie Martanegara

Ada beberapa pertanyaan tentang tuhan yang membuat sebagian orang menjadi ragu akan adanya Allah. Misalnya mereka bertanya mengapa Allah masih menciptakan manusia padahal sudah tahu ke mana akhirnya manusia, apakah akan masuk surga atau neraka. Ada yang mengatakan bahwa jika Allah sudah tahu ke mana akhir manusia maka Allah tahu bahwa seseorang akan masuk neraka. Lalu untuk apa Allah menciptakan manusia yang memang ditakdirkan untuk masuk neraka?

Ada juga pertanyaan lain misalnya kalau tuhan maha baik mengapa ada penderitaan dalam hidup ini. Kalau ada orang jahat hidup menderita mungkin itu adalah balasannya. Tapi mengapa ada juga orang baik yang hidupnya menderita? Kalau dikatakan manusia diciptakan untuk diuji, maka Allah sudah tahu akan seperti apa hasilnya. Sehingga pertanyaannya untuk apa Allah menciptakan manusia?

Pertanyaan semacam ini adalah pertanyaan yang menggelisahkan sebagian orang. Bahkan ada yang jadi agnostik dan berhenti salat karena tidak kunjung menemukan jawaban memuaskan. Katanya Allah Maha Pengasih dan Penyayang tapi mengapa seolah menyiksa makhluknya. Sepertinya ada anggapan jika perbuatan Tuhan tidak dapat dipahami, maka Tuhan tidak layak ada.

Sebelum membahas pertanyaan tersebut perlu dibahas terlebih dahulu sedikit tentang keraguan. Ragu tentang Tuhan itu setidaknya dapat dibagi jadi dua jenis yaitu, “ragu tanpa yakin” dan “ragu tapi yakin”.

Pertama, ragu tanpa yakin. Ragu tanpa yakin bisa jadi karena belum tahu alasan mengapa harus yakin akan adanya Allah atau sudah tahu alasan mengapa harus yakin tapi belum bisa menerima alasan tersebut. Untuk kasus pertama ini solusinya adalah belajar lagi. Kita perlu memahami lagi konsep fitrah manusia dan maksud dari ayat Allah yang ada pada alam semesta.

Imam Al Ghazali dalam bab ilmu kitab Ihya Ulumuddin menuliskan “...kalau seorang muslim merasakan ada keraguan dalam batinnya misalnya tentang makna dari dua kalimat syahadat, maka diwajibkan baginya mempelajari apa saja yang dapat menghilangkan keraguan tersebut.”

Kedua, ragu tapi yakin. Ragu tapi yakin maksudnya adalah yakin akan adanya Allah, tapi ragu terhadap kebaikan sifat dan perbuatan-Nya. Masalah ini terjadi karena ada pertanyaan-pertanyaan menggelisahkan yang belum bisa terjawab sehingga hati mereka tidak nyaman dengan apa yang dilakukan Allah. Pertanyaan-pertanyaan yang dituliskan pada bagian pembuka di atas bisa masuk pada tipe yang kedua. Tipe kedua ini yang akan dibahas lebih lanjut.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sebenarnya sudah banyak dibahas. Banyak orang mencoba menjawab satu persatu pertanyaan tersebut. Bahkan untuk satu pertanyaan ada berbagai cara untuk menjawabnya. Misalnya ada yang mengatakan memendam ragu tipe kedua dalam hati bukan hal yang masalah. Justru ada yang menganggap inilah yang namanya iman. Walau banyak pertanyaan yang tidak juga ada jawaban yang memuaskan, kita tetap yakin dan percaya.

Sering kali bukan logika-logika yang mampu memberi jawaban. Terkadang Allah memberikan jawaban berupa pengalaman hidup. Pengalaman hidup tersebut yang membuat akhirnya orang mengatakan, "Oh begitu maksudnya".

Seperti yang disebutkan di atas, pangkal keraguan ini adalah anggapan jika perbuatan Tuhan tidak dapat dipahami, maka tuhan tidak layak ada. Karena itu ada yang menjawab dengan analogi bahwa menolak Allah karena tidak memahami perbuatannya sama saja kita menolak keberadaan orang tua kita yang tidak kita pahami.

Dulu mungkin orang tua kita melarang kita melakukan hal-hal tertentu yang dianggap berbahaya. Di larang main ke jalanan, diperintahkan untuk belajar, dilarang makan es krim ketika malam dengan alasan yang tidak kita pahami karena kita masih kecil. Tetapi tentu saja orang tua kita itu ada walau kita tidak mengerti sikapnya. Ketika kita dewasa barulah kita mengerti alasannya.

Hanya saja ternyata tidak semua orang merasa puas dengan jawaban-jawaban tersebut. Jawaban yang ada memunculkan pertanyaan lainnya. Sekalipun ada jawaban yang memuaskan, terkadang jawaban-jawaban tersebut justru mengkhawatirkan karena hanya merupakan karang-karangan orang yang berusaha menjawabnya. Bisa jadi walaupun memuaskan, jangan-jangan bukan seperti itu maksud Allah yang sebenarnya.

Jawaban yang benar atas pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah yang dijawab langsung oleh Allah. Karena itu metode yang benar untuk mengetahui maksud suatu hal adalah dengan membuka Al Quran. Sikap mencari-cari jawaban di luar jawaban yang telah Allah berikan merupakan hal yang keliru dan sia-sia.

Sayangnya dan ini mungkin sesuatu yang tidak menyenangkan bagi mereka yang mencari jawaban adalah kalaupun Allah sendiri yang langsung yang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut, bisa jadi mereka tetap tidak akan puas. Jika jawaban dari Allah saja tidak membuat mereka puas, jawaban seperti apa yang akan memuaskan?

Karena itu, sikap yang tepat terhadap keraguan jenis ini adalah dengan mengabaikannya. Hal ini karena sebenarnya keraguan ini adalah "ragu tapi yakin". Pada dasarnya kita sudah yakin. Kalau kita sudah yakin bahwa Allah itu ada, maka pertanyaan-pertanyaan yang menggelisahkan sebenarnya tidak lagi signifikan dan relevan untuk membuat kita ragu. Ini sesuai ada sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa yakin tidak hilang karena ragu (اليقين لا يزال بالشك). Wallahua’lam. []

Sumber: Majalah Tabligh edisi Februari 2016

banner 468x60
author

Redaktur Pelaksana Majalah Tabligh. Pendiri Komunitas Homeschooling Keluarga Muslim (HSKM) dan Komunitas Ekonomi Islam Indonesia (Koneksi Indonesia)

No Response

Leave a reply "MENJAWAB KERAGUAN, MENGUKUHKAN KEYAKINAN"