MELANJUTKAN ESTAFET IBADAH DI BULAN SYAWAL



Sekalipun ramadhan telah meninggalkan kita, namun bukan berarti ‘tambang’ ibadah telah berakhir. Apalagi kewajiban beribadah, seorang mukmin tetap diwajibkan beribadah hingga ia mendapati kematian, Allah berfirman: “Dan sembahlah Allah hingga datang kepadamu sesuatu yang pasti (maut)”. (QS. Al Fajr: 99).

Ketika bulan Ramadhan berakhir, bukan berarti ibadah puasa berakhir. Ibadah puasa tetap wajib pada setiap tahun. Dan bahkan, ada beberapa puasa yang disunnahkan pada setiap bulannya. Sebagaimana sabda Rasulullah kepada Sabat Abu Dzar,

«يا أبا ذرٍّ إذا صمت من الشهر ثلاثةً فصُم ثلاثَ عشرةَ وأربعَ عشرةَ وخمسَ عشرةَ»

“Wahai Abu Dzar, jikalau puasa tiga hari pada tiap bulannya, maka puasalah pada tanggal 13, 14, dan 15”. (HR. Ahmad dan Nasa’i)

Diantara puasa yang disunnahkan adalah puasa sunnah Syawal. Puasa ini dilaksanakan di bulan Syawal selama enam hari. Pelaksaannya dimulai dari hari kedua Syawal hingga hari terakhir bulan Syawal. Dan tidak mesti berururtan, artinya boleh acak sekalipun berurutan lebih baik. Rasulullah bersabda:

«من صامَ رمضانَ ثم أتْبَعه ستاً من شوالٍ كان كصيام الدهرِ»

“Siapa saja yang berpuasa pada bulan Ramadhan dan kemudian ia lanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal maka seolah-olah ia berpuasa sepanjang masa”. (HR. Bukhari).

Iman Nawawi berkata, “sahabat-sahabat kami dari kalangan syafi’iyyah berkata: mustahab hukumnya atau dianjurkan untuk berpuasa enam hari di bulan Syawal. Dan dari hadits ini mereka menyimpulkan, sunnah yang dianjurkan melakukannya secara berurutan pada awal-awal Syawal, namun jika seseorang melakukannya engan terpisah(acak) atau menunda pelaksaanaannya hingga akhir Syawal, juga diperbolehkan. Hal ini dikarenakan puasa tersebut masih berada pada makna umum dari hadits tersebut. Kami tidak berbeda pendapat mengenai masalah ini, dan pendapat ini jugalah pendapat Imam Ahmad dan Abu Daud. ”

Selain puasa Syawal, ada beberapa puasa sunnah yang dapat dilakukan untuk menjaga semangat ibadah paskah Ramadhan. diantaranya adalah puasa senin kamis dan Ayyamul Bidh atau puasa tiga hari pada setiap bulan, tepatnya pada tanggal 13, 14, dan 15, seperti hadits Abu Dzar di atas.

Ibunda Aisyah berkata, “Rasulullah dahulu kala selalu menjaga puasa senin kamis”. (HR. Nasa’i, Ibn Majah, dan Tirmidzi). Perkataan ibunda Aisyah tersebut adalah dalil yang menunjukkan sunnahnya puasa pada hari senin dan amis, dan ini sudah maklum. Selain itu, Rasulullah juga bersabda,

«تُعْرَضُ الأعمالُ يومَ الاثنينِ والخميسِ فأحبُّ أن يُعْرَضَ عملِي وأنا صائمٌ».

“Diangkat amal-amal shalih pada hari senin dan kamis. Aku berharap amal shalihku diangkat dan aku ketika itu sedang berpuasa.” (HR. Tirmidzi).

MEMPERBANYAK SUJUD DI BULAN SYAWAL

Diriwayatkan dari Rabi’ah Ibn Ka’ab Al Aslami, ia berkata: “Aku pernah bermalam di rumah Rasulullah. Aku membawakan air untuk wudhu’ beliau dan keperluan-keperluan lainnya. lalu tiba-tiba Rasulullah bersabda, ‘Mintalah sesuatu?’ Maka Rabi’ah berkata, Aku minta menyertaimu di surga. Apakah ada yang lain?, jawab Rasulullah. Hanya itu, jawabnya pula. Kemudian Rasulullah bersabda, “Bantulah aku memperbaiki dirimu dengan memperbanyak sujud”. (HR. Muslim).

Salah satu diantara amalan yang dapat membuat Allah mencintai hambaNya adalah shalat sunnah. Ketika seorang hamba senantiasa melakukan hal-hal yang dicintai Allah maka Allah pun akan mencintainya. Ketika Allah mencintainya maka Allah akan menjaga penglihatan, pendengaran, mulut, kaki, dan tangannya dari hal-hal yang diaramkannya.

Rasulullah bersabda, Allah Swt berfirman: “Siapa saja yang memusuhi wali-Ku, kekasih-Ku maka Aku umumkan kepadanya perang. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku cintai dari amalan-amalan wajib yang telah Aku wajibkan kepadanya.” Hingga firman-Nya:

وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

“Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan amalan-amalan sunnah, hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengaran dengan pendengaran tersebut ia mendengar. Aku menjadi penglihatan yang dengan penglihatan itu ia melihat. Aku menjadi tangannya yang dengan tangan itu ia memegang. Aku menjadi kaki yang dengan kaki itu ia melangkah. Jika ia meminta kepada-Ku pasti Aku akan penuhi permintaannya. Dan jika ia memohon perlindungan pasti Aku akan melindunginya”. (HR. Bukhari).

Ringkasnya, jika seorang hamba senantiasa mencari keridhoan Allah, mendatangkan amalan-amalan yang disukai dan dicintai-Nya maka Allah pun akan jatuh cita pada hamba tersebut. Dan jika Allah sudah mencintai hamba tersebut maka Allah akan menjaga mata, telinga, mulut, tangan, dan kaki hamba tersebut dari hal-hal yang mendatangkan kemurkaan Allah.

Ketahuilah, cinta Allah kepada hamba tidak akan terwujud kecuali jika hamba tersebut senantiasa melaksanakan perintah-perintahNya dengan tekun dan sabar. Kemudian, ia senantiasa mencari keridhoan Allah nawafil atau amalan yang disunnahkan, ia senantiasa mendekatkan diri kepadanya dengan amalan sunnah, baik shalat, puasa, dll.

Diantara shalat-shalat sunnah yang dicintai Allah dan RasulNya adalah shalat sunnah rawatib. Rasulullah bersabda: “Barang siapa shalat dua belas raka’at dalam sehari semalam, maka dibangunkan baginya sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim).

Dua belas raka’at inilah yang disebut para ulama dengan rawatib mu’akkadah atau shalat sunnah rawatib yang ditekankan pelaksanaan. Dua belas raka’at tersebut terdiri, empat raka’at sebelum zhuhur, dua raka’at setelahnya, dua raka’at setelah maghrib, dua raka’at setelah isya, dan dua raka’at sebelum subuh. Sebagaimana sabda Rasulullah:

«مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ، بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ، أَرْبَعٍ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ»

“Barang siapa yang tekun shalat sunnah dua belas raka’at, maka dibangunkan baginya sebuah rumah di surga empat raka’at sebelum zhuhur, dua raka’at setelahnya, dua raka’at setelah maghrib, dua raka’at setelah isya, dan dua raka’at sebelum subuh.” (HR. Muslim).

Selain dua belas raka’at di atas, masih ada beberapa shalat sunnah yang terkatagorikan shalat sunnah rawatib. Para ulama menyebutnya dengan shalat sunnah rawatib ghair mu’akkadah, yaitu shala-shalat sunah rawatib yang tidak ditekankan pelaksanaannya.

Kata rawatib sendiri adalah jamak dari kata ratibah. Para ulama menjelaskan disebut rawatib karena ia dilakukan terus menerus secara rutin. Disebutkan pula, disebut rawatib karena ia dikerjakan bersama-sama shalat fardhu. diantara shalat rawatib ghair mu’akkadah, yaitu empat raka’at sebelum zhuhur dan empat raka’at sesudahnya, empat raka’at sebelum ashar, dua raka’at sebelum maghrib, dan dua raka’at diantara azan dan iqamat.

Terkait empat raka’at sebelum zhuhur dan sesudahnya, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa memelihara empat raka’at sebelum zhuhur dan empat raka’at sesudahnya, maka Allah akan mengharamkannya masuk neraka.” (HR. Ahmad).

Rasulullah bersabda terkait empat raka’at ashar:

«رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا»

“Semoga Allah merahmati hambaNya yang shalat sunnah empat raka’at sebelum ashar.” (HR.Ahmad dan Abu Daud).

Diriwayatkan dari Anas ibn Malik, ia berkata: “Kami dahulu di masa Rasulullah, shalat dua raka’at setelah matahari tenggelam, sebelum shalat maghrib.” (HR. Muslim). Dalam riwayat lain ia berkata, “Kami dahulu di Madinah, apabila adzan maghrib berkumandang, maka mereka (para sahabat) bersegera menuju tiang-tiang, lalu shalat dua raka’at. Sehingga, orang asing yang masuk masjid mengira shalat maghrib telah dilaksanakan, karena banyaknya orang-orang yang melakukannya.” (HR. Bukhari).

Adapun dalil shalat sunnah diantara adzan dan iqamat adalah sabda Rasulullah,

«بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ، ثَلاَثًا لِمَنْ شَاءَ»

“Diantara dua adzan (adzan dan iqamat) ada shalat sunnah.” Rasulullah mengucapkannya hingga tiga kali, lalu berkata, bagi siapa saja yang mau. (HR. Bukhari).

SHALAT SUNNNAH DIRUMAH ADALAH SUNNAH YANG DITINGGALKAN

Salah satu sunnah Rasulullah yang ditinggalkan pada hari ini adalah membudayakan shalat sunnah di rumah. Dalam sabdanya, Rasulullah menasehatkan ‘jangan jadikan rumah kalian layaknya kuburan’. Karena hanya kuburanlah yang sepi dari ibadah kepada Allah, zikir, dan membaca ayat-ayatNya. Namun yang terjadi dewasa ini adalah kebalikannya, di kuburan ayat-ayat Al Qur’an dibaca namun di rumah-rumah kaum muslimin Al Qur’an menjadi hiasan yang dipajang.

Para ulama menyebutkan beberapa hikmah shalat sunnah di rumah. Di  antaranya sebagaimana yang disebutkan Imam Nawawi; shalat di rumah menjauhkan pelakunya dari dosa riya. Karena shalat di rumah lebih tersembunyi dan lebih jauh dari riya. Alasan lain, shalat di rumah akan mengundang datangnya rahmat Allah ke rumah tersebut dan menjauhkan syetan dari rumah tersebut. Rasulullah mengingatkan,

«اجْعَلُوا فِي بُيُوتِكُمْ مِنْ صَلاَتِكُمْ وَلاَ تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا»

“Jadikanlah sebagian shalat sunnah kalian di rumah-rumah kalian, dan jadikan rumah-rumah kalian layaknya kuburan”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Selain hadits di atas , Rasulullah juga bersabda, “Jika salah seorang diantara kalian menunaikan shalat wajib di masjid, maka jadkanlah untuk rumahnya ‘jatah’ shalat sunnahnya. Karena sesungguhnya Allah akan menjadikan kebaikan di rumahnya.” (HR. Muslim).

Rasulullah bersabda,

«فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ، فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ المَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا المَكْتُوبَةَ»

Wahai manusia, shalat sunnahlah kalian di rumah-rumah kalian. Karena sesungguhnya shalat sunnah yang paling utama adalah shalat sunnah seseorang di rumah, kecuali shalat wajib. (HR. Bukahari).

MELANJUTKAN KEBIASAAN SHALAT MALAM DAN ZIKIR

Diriwayatkan dari Al Mughirah ibn Syu’bah, ia berkata: “Adalah Rasulullah shalat malam hingga kedua kakinya bengkak. Lalu dikatakan kepadanya (mengapa engkau melakukan ini ya Rasulullah?) padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu, baik yang terdahulu maupun yang akan dating. Maka beliau menjawab dengan ungkapan,

«أفَلاَ أكونُ عبداً شكوراً؟»

“Apakah tidak boleh aku menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur?”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan dari Abdullah ibn Salam, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Wahai manusia, tebarkanlah salam, berikanlah (orang-orang miskin) makanan, sambunglah tali silaturrahmi, dan shalat malamlah ketika manusia tertidur pulas; maka kalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Tirmidzi).

Selain kebiasaan shalat malam yang harus tetap dilestarikan diuar bulan ramadhan, kebiasaan zikir, baik zikir pagi petang maupun zikir setelah shalat wajib, tetap harus dilestarikan. Diriwayatkan, Rasulullah setelah shalat membaca istighfar sebanyak tiga kali, kemudia dilanjutkan dengan membaca zikir:

«اللَّهُمَّ أنتَ السلامُ ومنكَ السلامُ تباركتَ يا ذَا الجلالِ والإِكرام»

Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang membaca tasbih (subhanallah) 33 kali, tahmid (Al Hamdulillah) 33 kali, dan takbir (Allahu akbar) 33 kali, lalu 99 kali tersebut disempurnakan dengan yang keseratus dengan:

لا إِله إِلاَّ الله وحدَه لا شريكَ لهُ، لهُ الملكِ وله الحمدُ وهو على كلِّ شيء قدير

“Pasti dosa-dosanya akan dihapuskan, sekalipun dosanya sebanyak busa di lautan.” (HR. Muslim).

Pembaca sekalian, mari kita bersungguh-sungguhlah melaksanakan ketaatan dan menjauhi dosa dan keburukan, agar hidup kita beruntung di dunia dan akhirat. Agar kita mendapatkan kehidupan thayyibah, kehidupan yang baik di dunia dan pahala yang banyak di akhirat. []

*) Diterbitkan pada Majalah Tabligh edisi Juli 2016

banner 468x60
author
Redaktur Pelaksana Majalah Tabligh. Pendiri Komunitas Homeschooling Keluarga Muslim (HSKM) dan Komunitas Ekonomi Islam Indonesia (Koneksi Indonesia)
No Response

Leave a reply "MELANJUTKAN ESTAFET IBADAH DI BULAN SYAWAL"