KEPEMIMPINAN DAN KARAKTER PEMIMPIN

No comment 180 views


Oleh. Achmad Firdaus

Pengurus International Student Society

National University of Singapore

“Dunia saat ini memiliki banyak pemimpin, tapi mereka berada di bawah bayang-bayang selebritis.” Demikian pernyataan Daniel Boorstin, salah seorang sejarawah asal Amerika Serikat. Pernyataan tersebut berangkat dari fenomena para pemimpin di berbagai belahan dunia yang hanya bisa membuat wacana dan berita. Mereka gemar mengeluarkan pernyataan yang hanya cocok untuk menghiasi halaman media massa. Sementara solusi konkrit yang diharapkan masyarakat untuk keluar dari masalah dan krisis yang berkepanjangan tak kunjung tiba. Bahkan sejarah mencatat pergantian pemimpin yang pernah tampil di negeri ini, hampir tidak ada yang berhasil mengukir sejarah dengan tinta emas, tapi yang banyak dari akhir sejarah mereka justru dipenuhi tinta merah sebagai tanda buruknya prestasi.

Tak bisa dipungkiri bahwa style kepemimpinan saat ini sudah digantikan oleh baju selebritas yang sarat dengan akting, basa-basi dan kamuflase. Sehingga untuk tampil menjadi seorang pemimpin, sepertinya tidak perlu memiliki kelebihan atau keahlian. Kalau seseorang terkenal karena dipopulerkan media massa, maka ia layak tampil atau ditampilkan menjadi pemimpin. Soal apakah ia memiliki kemampuan leadership atau tidak itu urusan belakangan, yang penting ia adalah orang terkenal dan memiliki “modal” untuk dipopulerkan.

Kesan ini dapat ditangkap dari beragam fakta sebagian pemimpin dan calon pemimpin yang gemar ‘cari nama’. Mereka senang tampil di tengah masyarakat agar diidolakan oleh orang banyak layaknya superstar yang jumpa fans. Mereka juga senang tampil dimedia dalam kemasan acara yang menarik. Terlebih lagi ‘pemilik’ media saat ini berlomba-lomba ‘unjuk gigi’ untuk menjadi ‘orang penting’ di negeri ini, sehingga tak mengherankan jika media-media tertentu tak henti-hentinya mempromosikan ‘sang bos’ demi meningkatkan elektabilitasnya di mata masyarakat. Tak peduli apakah ia memiliki visi kepemimpinan atau tidak, memiliki kredibilitas moral atau tidak, itu urusan nomor sekian.

Pemimpin Berkarakter

Pemimpin dan Kepemimpinan merupakan dua elemen yang saling berkaitan. Artinya, kepemimpinan (style of the leader) merupakan cerminan dari karakter pemimpinnya (leader behavior). Perpaduan antara leader behavior dengan leader style tersebut merupakan kunci keberhasilan suatu negara.

Namun, telah menjadi ‘rahasia umum’ bahwa mayoritas orang berlomba memperebutkan kursi kepemimpinan hanya untuk mencari popularitas dan keuntungan pribadi atau kelompoknya. Makna kata pemimpin pun direduksi dengan membatasi arti kepemimpinan tersebut hanya pada kedudukan dan kekuasaan. Pemimpin juga selalu diidentikkan dengan public figure dan orang terhormat. Sehingga dalam perjalannanya para pemimpin pun telah menjelma menjadi sosok yang populer dan ‘wajib’ mendapat perlakuan istimewa, namun terkadang tidak mampu mempersembahkan sesuatu yang istimewa bagi orang-orang yang dipimpinnya.

Oleh karena itu, masyarakat Indonesia harus cerdas memilih pemimpin yang berakhlak dan berkarakter. Diantara karakter pemimpin yang dimaksud adalah sebagai berikut:

Seorang pemimpin harus jujur. Kejujuran seorang pemimpin dinilai dari perkaataan dan sikapnya. Sikap pemimpin yang jujur adalah manifestasi dari perkaatannya, dan perkatannya merupakan cerminan dari hatinya.  Pemimpin yang jujur akan lebih mudah diterima di tengah masyarakat dan akan menjadi tumpuan harapan orang-orang yang dipimpinnya. Olehnya itu, seorang pemimpin harus mengutamakan kejujuran, karena kualitas kepemimpinannya akan ditentukan oleh seberapa jauh ia memperoleh kepercayaan dari masyarakat.

Selain itu, sikap amanah merupakan karakter yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin. Karena pemimpin yang amanah akan senantiasa menjaga kepercayaan masyarakat yang telah diserahkan kepadanya. Sehingga orang yang diberi tugas kepemimpinan harus mengedepankan pelayanan kepada masyarakat, karena setiap pemimpin mengemban amanah sebagai khadimul ummah (pelayan masyarakat) dan setiap amanah pasti akan dimintai pertanggungjawabannya.

Kemampuan berkomunikasi juga merupakan karakter penting yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin. Seorang pemimpin harus menyadari bahwa rakyat yang dipimpinnya bukanlah boneka yang seenaknya bisa digerakkan dan diatur sesuai dengan kemauannya sendiri, tetapi mereka juga adalah manusia yang memiliki hati dengan berbagai macam karakter dan kecenderungan. Sehingga pemimpin dituntut untuk tidak bersikap arogan dan bisa membuka hati terhadap segala kondisi dan penderitaan rakyatnya. Seorang pemimpin harus mampu membangun kepercayaan rakyatnya untuk berkomunikasi dengannya sehingga ia bisa memahami keinginan masyarakat yang dipimpinnya. Dan salah satu ciri kekuatan komunikasi seorang pemimpin adalah keberaniannya menyatakan kebenaran meskipun konsekuensinya berat. Seperti dalam ungkpan, kul al-haq walau kaana murran (katakanlah kebenaran itu meskipun pahit rasanya).

Selanjutnya, seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan dan skill kepemimpinan membina orang-orang di bawahnya dan mengatur kehidupan masyarakat yang dipimpinnya. Seorang pemimpin harus mencari solusi terhadap permasalahan masyarakat dan berjuang demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat, bangsa dan negara.  Dan seorang pemimpin harus mampu melanjutkan kepemimpinan sebelumnya dan mempersiapkan generasi pemimpin setelahnya.

Dan yang paling penting, seorang pemimpin harus beriman. Hal tersebut bermakna bahwa masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim ‘wajib’ memilih pemimpin Muslim disetiap institusi pemerintahan. Meskipun belakangan ini tengah popoler statement yang dinisbatkan kepada Ibnu Taimiyah untuk menggiring opini publik bahwa “pemimpin kafir yang berlaku adil lebih baik dari pada pemimpin muslim yang dzalim.” Namun perlu dicatat bahwa pernyataan tersebut tidak benar karena sudah mengalami tahrif (perubahan). Adapun pernayataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang sebenarnya adalah, “Manusia tidak berselisih bahwa balasan dari perbuatan zhalim adalah kebinasaan, dan balasan dari sikap adil adalah kemuliaan, oleh karena itu diriwayatkan bahwa: “Allah akan menolong Negara yang adil sekalipun kafir dan akan membinasakan Negara yang zhalim sekalipun beriman.”

Perlu diketahui bahwa pernyataan beliau dalam risalah Al Hisbah tersebut adalah penjelasan tentang pentingnya keadilan dan bahaya kedzaliman terhadap eksistensi sebuah bangsa. Sehingga jika pernyataan tersebut dipahami secara utuh, maka tidak ada indikasi sedikit pun bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah merestui kepemimpinan orang kafir, karena hal ini merupakan masalah pokok yang sudah jelas dasar hukumnya, dimana agama (baca: Islam) menolak dengan tegas kepemimpinan orang kafir terhadap Ummat Islam

Olehnya itu, dalam setiap ‘pertarungan’ politik yang akan digelar di negeri ini (pilkada, pilgub, atau pemilu) masyarakat Indonesia harus cerdas memilih pemimpin yang berkarakter agar mampu membawa negeri ini ke arah yang lebih baik. Ingat pesan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jika suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran.” (HR.Bukhari).

Wallahu a’lam bisshawaab

*) Dipublikasikan pertama kali pada Majalah Tabligh edisi Juli 2016

banner 468x60
author

Redaktur Pelaksana Majalah Tabligh. Pendiri Komunitas Homeschooling Keluarga Muslim (HSKM) dan Komunitas Ekonomi Islam Indonesia (Koneksi Indonesia)

No Response

Leave a reply "KEPEMIMPINAN DAN KARAKTER PEMIMPIN"