IMAN DAN TAKWA, KUNCI KEBERKATAN SUATU BANGSA



Oleh: H. Risman Muchtar, M.Si

 

وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ٩٦

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al-A’raf [7]:96)

Suatu negeri atau bangsa akan menjadi makmur dan sejahtera bukanlah karena kemampuan penduduknya untuk mengelola dan mengolah sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimilikinya, akan tetapi lebih ditentukan oleh keimanan dan ketaqwaan para pemimpin dan rakyat dari bangsa itu. Betapa banyak negeri yang diberikan oleh Allah kekayaan alam yang luar biasa, lautan yang luas, hutan yang lebat, tanah yang subur, sungai-sungai sebagai sumber air, kekayaan yang tersimpan di perut bumi, mulai dari minyak, gas, batu bara, bauksit, tembaga, mas, perak dan uranium dan banyak lagi kekayaan alam lainnya, akan tetapi ternyata mayoritas rakyatnya hidup di bawah garis kemiskinan. Bak kata pepatah: “ayam bertelur di atas padi mati kelaparan, itik berenang di air mati kehausan”.

Penggunaan kata أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰ pada ayat tersebut di atas tentu yang dimaksud bukan rakyat atau penduduknya saja, tetapi mengandaikan keseluruhan dari warga bangsa itu atau seluruh manusia yang ada di suatu negeri atau bangsa yaitu rakyat dan pemimpinnya. Qurthuby dalam tafsirnya menjelaskan “ahlul qura” adalah seluruh manusia yang ada dalam negeri itu. Dapat difahami bahwa ayat diatas menyatakan jika para pemimpin beserta seluruh rakyat suatu negeri atau bangsa beriman dan bertaqwa kepada Allah, Dia pasti akan membuka keberkatan dari langit dan bumi, tetapi sebaliknya jika pemimpin dan rakyat bangsa itu mendustakan ayat-ayat Allah, maka Allah akan mendatangkan azab disebabkan usaha yang mereka lakukan.

Jadi negeri atau bangsa yang akan mendapat berkah dari Allah adalah negeri atau bangsa yang pemimpin dan rakyatnya terdiri dari orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, sebaliknya suatu negeri atau bangsa yang para pemimpin dan rakyatnya mendustakan ayat-ayat Allah, mempersekutukan Allah dengan tuhan-tuhan yang lain, melakukan perbuatan keji dan mungkar, membiarkan kemaksiyatan berkembang dalam negeri, Allah akan menurunkan azab atau siksaan disebabkan usaha dan kedurhakaan yang mereka lakukan.

Oleh karena itu, untuk mewujudkan sebuah negeri atau bangsa yang akan mendapat berkah dari Allah SWT perlu dilakukan langkah-langkah strategis, antara lain memilih para pemimpin negeri atau bangsa yang terdiri dari orang-orang yang beriman dan bertaqwa, karena hanyalah pemimpin yang beriman dan bertaqwa yang akan mampu memimpin negeri dan bangsanya dengan nilai-nilai iman dan taqwa kepada Allah, dengan hukum dan aturan-aturan yang telah disyariatkan oleh Allah. Sebaliknya pemimpin yang tidak beriman, mereka sudah pasti tidak akan memimpin negeri atau bangsanya dengan nilai-nilai iman dan taqwa kepada Allah, sebaliknya mereka adalah para pemimpin yang berpotensi membawa rakyat yang dipimpinnya kepada kemusyrikan dan kedurhakaan, malah membiarkan umat yang dipimpinnya melakukan kemaksiyatan, malah lebih dari itu di antara mereka melindungi perbuatan keji dan mungkar dengan dalih kebebasan individu yang dilindungi oleh hak-hak asasi manusia, sekalipun mengancam hak-hak asasi manusia lain yang lebih besar.

Para pemimpin yang tidak beriman (non muslim) dari kalangan yahudi dan nashara, mereka satu sama lain akan  bekerjasama dan saling membantu (baca QS Al-Maidah ayat 51), dan barang siapa yang memilih mereka menjadi pemimpin, mereka adalah termasuk orang-orang yang bekerjasama dan menolong mereka dalam berbagai aktifitas dan kegiatan yang akan menjauhkan kaum muslimin dari ajaran Islam yang sebenar-benarnya. Itulah sebabnya Allah melarang orang-orang yang beriman memilih orang-orang kafir (non muslim) untuk menjadi pemimpin mereka, karena bagaimana pun kelompok Yahudi dan Nashara itu akan tidak pernah tinggal diam dan mereka akan selalu bekerja dengan segala cara dan upaya agar orang-orang Islam mengikuti pola hidup mereka (baca QS Al-Baqarah ayat 120). Oleh karena itu orang-orang beriman  harus memiliki motivasi, berdoa serta berusaha agar mereka dijadikan Allah sebagai pemimpin (Imam) bagi orang-orang yang bertaqwa (baca QS Al-Furqan ayat 74), agar jangan sampai orang-orang yang bertaqwa dikuasai dan dikendalikan oleh pemimpin non muslim.

Selain itu, langkah strategis yang harus dilakukan adalah berusaha mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya melalui; (1) gerakan dakwah iman, pembersihan aqidah umat dari berbagai bentuk kemusyrikan, pemberhalaan dunia, pemikiran fragmatisme, hedonisme yang mendangkalkan aqidah dan dikalahkan oleh kecintaan terhadap dunia yang berlebih-lebihan (baca QS Al-Fajr ayat 19 dan 20); (2) gerakan peningkatan ketaqwaan kepada Allah dengan taqwa yang sebenarnya, yang ditunjukkan dengan kepatuhan dan kesetiaan kepada Allah, berusaha melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larang-laranganNya; (3) memiliki komitmen yang kuat dalam melaksanakan ajaran Islam dalam seluruh kehidupannya, dengan melakukan islamisasi kehidupan (islamiyatul hayah), dengan keyakinan penuh bahwa dengan melaksanakan syariat Islam secara utuh (kaffah), Allah akan memberikan jaminan keselamatan berupa keberkahan dalam kehidupan di dunia, dan kebahagiaan di akhirat nanti berupa sorga (jannah) yang penuh kenikmatan (baca QS Ali Imran 102 dan Al-Baqarah ayat 38).

Pesan penting dari QS Al-A’raf ayat 96 di atas adalah bahwa selain menegaskan bahwa Iman dan Taqwa sebagai kunci keberkatan suatu negeri atau bangsa, adalah juga menegaskan bahwa ketika masyarakat  suatu negeri atau  bangsa, yaitu para pemimpin dan rakyatnya telah melakukan perbuatan yang secara terang-terangan mendustakan ayat-ayat Allah, menjauhi dan malah meninggalkan syariat-Nya serta membiarkan terjadinya kemaksiyatan dan kemungkaran terjadi tanpa ada upaya mencegahnya, maka Allah pasti akan mendatangkan azab dan siksaan disebabkan kemaksiyatan dan kemungkaran yang merela lakukan. Jika di suatu negeri atau bangsa kemungkaran berupa tindakan korupsi yang dilakukan para penguasa yang berkolaborasi dengan penguasa dan masyarakat telah merajalela, narkoba dan minuman keras telah menjadi penyakit masyarakat mulai kelas atas sampai rakyat jelata, dan perbuatan maksiyat berupa perzinaan, lesbian, gay, biseksual dan transgender sudah dianggap biasa dan dilindungi oleh para penguasa dan penguasa dan kroni-kroninya, maka tunggulah azab Allah akan datang, sebagaimana azab yang pernah ditimpakan Allah kepada kaum Luth di negeri Sodom di era Nabi Ibrahim AS (baca QS Al Qamar 33-36).

Kesimpulan

Substansi taqwa dalam ayat ini, antara lain sebagai berikut:

  1. Iman dan taqwa adalah kunci keberkatan suatu negeri atau bangsa.
  2. Untuk mewujudkan suatu negeri atau bangsa yang beriman dan bertaqwa, negeri atau bangsa itu harus dipimpin oleh orang-orang yang beriman dan taqwa.
  3. Untuk mewujudkan suatu masyarakat Islam yang sebenar-benarnya perlu dilakukan gerakan pemurnian iman, gerakan peningkatan taqwa dalam arti yang sesungguhnya dan gerakan islamisasi dalam seluruh aspek kehidupan pribadi dan masyarakat.
  4. Kemungkaran dan kemaksiyatan yang dilakukan oleh para pemimpin dan rakyat suatu negeri atau bangsa akan mengundang datangnya azab dan malapetaka.

Sumber: Majalah Tabligh edisi Maret 2016

banner 468x60
author
Redaktur Pelaksana Majalah Tabligh. Pendiri Komunitas Homeschooling Keluarga Muslim (HSKM) dan Komunitas Ekonomi Islam Indonesia (Koneksi Indonesia)
No Response

Leave a reply "IMAN DAN TAKWA, KUNCI KEBERKATAN SUATU BANGSA"