HAJI: SIMBOL KETAKWAAN DAN PERSATUAN



Buya Risman Muchtar
Pengurus Majelis Tabligh PP Muhammadiyah

Bentuk takwa yang hakiki ialah seorang hamba bersungguh-sungguh menjauhi seluruh dosa, yang besar maupun yang kecil serta bersungguh-sungguh melakukan seluruh bentuk ketaatan, baik yang wajib maupun yang sunah semampunya. Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah berkata, “Termasuk takwa yang sempurna adalah melaksanakan seluruh kewajiban dan meninggalkan segala bentuk keharaman dan syubhat lalu disertai dengan melaksanakan amalan sunnah dan meninggalkan yang makruh. Itulah derajat takwa yang sempurna.”

Allah Ta’ala berfirman:

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ ۚ

“Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang telah diberi kitab suci sebelum kamu dan juga kepadamu agar bertakwa kepada Allah.” (QS. An-Nisaa’: 131).

Kemudian dalam firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102).

Setiap muslim pastilah mengetahui bahwa ibadah haji ke Baitullah merupakan salah satu bentuk takwa dari lima rukun islam. Dalam melakukan ibadah haji, Jutaan kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia membanjiri tanah suci. Selama beribadah haji, umat muslim senantiasa mengucap talbiyah menyambut panggilan Allah SWT:

“Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu, sesungguhnya segala pujian, kenikmatan, dan kerajaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu.”

Berangkat ke tanah suci, melaksanakan ibadah haji merupakan impian setiap insan beriman mewujudkan titah Allah Yang Maha Rahman, yang telah berfirman:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari kewajiban haji maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (Ali ‘Imran: 97)

Allah Ta’ala berfirman: “Dan siapa saja yang menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.” (QS. Al-Ahzaab: 71).

Ibadah haji didasarkan pada ibadah serupa yang dilaksanakan oleh para nabi terdahulu, terutama nabi Ibrahim. Haji merupakan rukun Islam kelima setelah syahadat, shalat, zakat, dan puasa Ramadhan. Empat rukun di atas harus dikerjakan semua umat muslim tanpa terkecuali. Sementara haji diwajibkan bagi umat Islam yang mampu, baik secara finansial, kesehatan, maupun psikologis.

Haji bukan sekedar ibadah mahdlah, tetapi ibadah yang mengandung dimensi sosial. Sebab, dalam proses ibadah haji memiliki rasa empati terhadap yang lain. Hal itu bisa dirasakan ketika thawaf, berjamah, dan dimensi sosial lainnya. Dalam haji, kesadaran yang hakiki menjadi titik tolak yang ampuh untuk menghambakan diri seutuhnya.

Untuk itu, setiap jamaah haji senantiasa ingat terhadap posisi dirinya sebagai hamba Allah penuh kelemahan dan kekurangan. Bagi para jamaah haji, niatan suci untuk menyempurnakan ibadah; meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah harus benar-benar tertanam dalam hati.

Haji adalah simbol yang terbentuk dari berbagai amalan, simbol penyerahan diri seorang hamba keada Allah SWT. Haji dapat membangkitkan berbagai perasaan: membangkitkan rasa kasih sayang terhadap sesama muslim, membantu kepedihan mereka, dan merasakan apa yang dirasakan oleh generasi Islam pertama yang pernah hidup di tempat tersebut. Dengan kata lain, dalam setiap amalan haji terkandung berbagai pelajaran dan makna.

Sebagai sarana ibadah seorang muslim, ibadah haji dapat menghapus dosa. Dalam sebuah riwayat disebutkan:

“Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda: Siapa yang melakukan ibadah haji dengan tidak mencaci maki dan tidak pula melakukan maksiat, maka dia kembali seperti pada hari kelahirannya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Selain sebagai sarana untuk menghapus dosa, ibadah haji memiliki keutamaan, yakni salah satu di antara ibadah yang utama dan haji termasuk jihad yang paling afdhol. Hal ini bisa dilihat dalam hadis berikut:

“Dari Abu Hurairah, telah ditanya Rasulullah SAW. Amal apakah yang paling utama, Nabi menjawab: iman kepada Nabi dan Rasul-Nya, kemudian apalagi, Nabi menjawab: beruang dijalan Allah, kemudian apalagi, Nabi menjawab: Haji mabrur” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain disebutkan,

“Dari ‘Aisyah RA. Sesungguhnya beliau berkata, ya Rasulullah, engkau berpendapat bahwa jihad adalah amalan yang paling utama, kenapa kami tidak berjihad? Lalu Beliau bersabda: Tetapi amal yang paling utama adalah haji mabrur (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari hadis-hadis di atas, ibadah haji merupakan aktivitas mendatangi ‘rumah’ Allah dan sarana ibadah umat muslim sembari menjumpai tempat-tempat suci. Ibadah haji tersebut bermanfaat bagi umat muslim untuk merefleksi diri dan mengingatkan untuk berhijrah dari yang buruk ke jalan yang lurus.

Ibadah haji ke Baitullah (rumah Allah) mempunyai arti menyembah Allah dengan menuju ke Al Baitul Haram (rumah suci) untuk mengerjakan syiar atau manasik haji. Selain menjalankan ibadah, hikmah berhaji akan melatih jiwa untuk mengerahkan segala kemampuan harta dan jiwa tetap taat kepada Allah. Oleh kerana itu, haji merupakan salah satu macam jihad fi sabilillah.

Berikut beberapa hikmah menunaikan ibadah haji di antaranya sebagai berikut:

  1. Mempertebal keimanan setelah menginjakan kaki langsung di tanah suci, di mana islam pertama kali muncul dan berkembang. Ibadah Haji secara tidak langsung telah menyatukan umat muslim dari seluruh dunia. Mereka terdiri dari berbagai bangsa, warna kulit dan bahasa. Kondisi tersebut membuka pandangan dan pemikiran tentang kebenaran Al Qur’an yang diterangkan semua dengan jelas dan nyata. Hal ini bisa di lihat dalam Al Qur’an surat Al-Hujarat, ayat 13 dan Ar-Rumm, ayat 22; “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.” “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlainan bahasamu dan warna kulitmu.”
  2. Menumbuhkan rasa syukur atas nikmat Allah atas kesehatan, kesejahteraan, dan kesempatan yang diberikan Allah sehingga seseorang muslim dapat berhaji.
  3. Merenungi kesulitan Rasullulah dalam menyebarluaskan Islam dan kesulitan Siti Hajjar dalam memohon pertolongan Allah.
  4. Membuka jalan tobat bagi mereka yang meresapi seluruh kegiatan hajinya dan menyadadari khilafan-kehilafannya di masa lalu.
  5. Syiar perpaduan umat Islam, ibadah haji merupakan syiar perpaduan umat Islam. Kondisi ini kerana umat muslim yang menjalankan ibadah haji hanya mempunyai satu tujuan, yakni menunaikan perintah Allah atau kewajiban rukun Islam yang kelima. Dalam memenuhi tujuan tersebut, umat muslim yang berhaji melakukan perbuatan yang sama, memakai pakaian yang sama, dan menaati aturan yang sama. Peristiwa ini seharusnya menjadi cerminan umat muslim dalam kehidupan sehari-hari apabila pulang ke negara masing-masing.

Selain hikmah yang diuraikan di atas, sesungguhnya masih banyak hikmah lain yang bisa diperoleh dan direnungkan dalam setiap kegiatan dan ritual yang dilaksanakan dalam ibadah haji.

Di antara tujuan terbesar dari ibadah haji adalah menyatukan barisan kaum muslimin di atas al-haq dan membimbingnya mereka kepada al-haq, agar mereka istiqamah di atas agama Allah, beribadah hanya kepada Allah satu-satu-Nya, dan tunduk patuh terhadap syari’at-Nya. [mrh]

Sumber: Majalah Tabligh edisi September 2016

banner 468x60
author
Redaktur Pelaksana Majalah Tabligh. Pendiri Komunitas Homeschooling Keluarga Muslim (HSKM) dan Komunitas Ekonomi Islam Indonesia (Koneksi Indonesia)
No Response

Leave a reply "HAJI: SIMBOL KETAKWAAN DAN PERSATUAN"