H. FACHRODIN, MUHAMMADIYAH, & SI MERAH



Oleh: Beggy Rizkiyansyah

Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa

Gerakan komunisme di Indonesia adalah salah satu hal yang menarik untuk dikaji. Karena gerakan tersebut justru lahir ditengah-tengah gerakan Islam di Indonesia (Hindia Belanda). Di tengah gerakan Islam, PKI muncul menjadi salah satu gerakan yang besar dalam sejarah Indonesia. Sarekat Islam adalah gerakan Islam pertama yang muncul, dan sangat mungkin gerakan modern pertama juga yang bersifat nasional di Indonesia.

Sarekat Islam pada tahun 1912, semakin membesar. Dengan 4.500 orang anggotanya, dalam beberapa kasus, anggota Sarekat Islam berkonflik dengan orang-orang Cina, sebagai bagian dari pembelaan terhadap sesama anggota SI. Jumlah yang semakin membesar ini membuat pemerintah kolonial mencekal organisasi tersebut dan melarang mereka untuk mengadakan pertemuan. Di lain sisi, SI terus membesar dan memperoleh pengikut di Surabaya. Di Surabaya inilah Sarekat Islam mengajak Oemar Said Tjokroaminoto untuk bergabung. Dengan hadirnya Tjokroaminoto Sarekat Islam, maka arah pergerakan di Hindia Belanda tak lagi sama. Sarekat Islam meroket dan merebut hari masyarakat pribumi ketika itu. Jumlah anggotanya meledak, Dari 35 ribu orang di Agustus 1914, pada tahun1915, Sarekat Islam telah memiliki 490.120 anggota. Bahkan pada tahun 1919, anggota Sarekat Islam telah mencapai 2 juta orang. (Lihat Safrizal Rambe, Sarekat Islam; Pelopor Bangkitnya Nasionalisme Indonesia 1905-1942: 2008)

Sarekat Islam memang mampu menyatukan penduduk pribumi. Agama Islam sebagai pengikat yang erat diantara masyarakat Hindia Belanda ketika itu. Kala itu, menyebut orang pribumi berarti adalah orang Islam. Sarekat Islam mampu menyatukan rakyat pribumi dari berbagai lapisan, mulai dari kalangan bangsawan, terdidik barat, hingga para ulama. Karena azas Islam ini pula SI memilki daya ikat yang luar biasa. Sarekat Islam telah menjadi pembela bagi para pedagang kecil, kaum buruh, kaum tani dan rakyat miskin lainnya. Sarekat Islam sejak awal kongres pertamanya telah berbicara mengenai ‘negeri’, bukan suku seperti Budi Utomo. Dalam tujuan awalnya, Sarekat Islam “…berikhtiar mengangkat derajat rakyat agar menimbulkan kemakmuran, kesejahteraan dan kebesaran negeri.” (Safrizal Rambe: 2008)

Untuk memudahkan kordinasi dengan berbagai cabangnya (afdeling), dibentuk Central Sarekat Islam (CSI). CSI tidak memiliki kuasa atas cabang-cabangnya. Setiap cabang SI memiliki otonomi tersendiri. Salah satunya adalah Sarekat Islam cabang Surakarta dan Semarang, yang akan banyak berseberangan dengan CSI dibawah Tjokroaminoto. SI Surakarta, menjadi berseberangan dengan CSI setelah dimotori oleh Mas Marco Kartodikromo, seorang jurnalis yang memiliki sikap frontal terhadap pemerintah kolonial. Hal ini berbeda dengan CSI dibawah Tjokroaminoto yang bersikap moderat dan tidak frontal. Begitu pula dengan SI Semarang. Sejak diambil alih oleh Semaoen, SI Semarang menjadi sangat kritis dan kerap kali menyerang dengan tajam kebijakan-kebijakan CSI.

Nama Semaoen memang tak bisa dilepaskan dari Sneevliet, seorang Belanda yang menjadi pembawa bibit komunisme ke Hindia Belanda (Indonesia). Sneevliet dan Semaoen yang sama-sama menjadi anggota perkumpulan kaum sosial demokrat di Hindia Belanda, Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV,) memiliki sikap frontal terhadap pemerintah kolonial dan CSI. Beberapa persoalan yang kerap diperselisihkan antara SI Semarang dengan CSI adalah soal milisi bumiputera (Indie Werbaar) dan mengenai volksraad (Dewan Rakyat). Namun yang paling mendasar adalah sikap Semaoen dan kelompoknya terhadap agama Islam. Semaoen yang dipengaruhi oleh pemikiran komunisme, ingin membawa SI ke arah netral agama. Sedangkan bagi para pengurus CSI seperti, Haji Agus Salim, Abdul Muis dan H. Fachrodin, Islam adalah landasan bagi Sarekat Islam. Lewat peran Haji Fahcrodin, Muhammadiyah berperan di Sarekat Islam. (Safrizal Rambe: 2008)

Muhammadiyah versus PKI

Haji Fachrodin adalah seorang tokoh Muhammadiyah yang banyak berperan di Sarekat Islam. Memang K.H. Achmad Dahlan sempat pula menvduduki jabatan penting di Sarekat Islam. Namun karena kesibukannya di Muhammadiyah, perannya menjadi tidak signifikan. Ini berbeda dengan H. Fachrodin. Ia merupakan seorang Muhammadiyah tulen. Keluarganya murid-murid langsung K.H. Ahmad Dahlan. Kakaknya, H. Syuja adalah ketua PKO Muhammadiyah pertama. Adiknya Ki bagus Hadikusumo kelak menjadi pemimpin Muhammadiyah pula. Ia sendiri? Pendakwah, pembela buruh, jurnalis dan 'Djempolan' Muhammadiyah. Ia bergabung dengan Sarekat Islam sejak 1913 sebagai anggota SI Jogjakarta. Namun perjalanan politiknya baru menonjol sejak ia bersama Surjopranoto memegang kendali SI Jogja, sehngga akhinrya tahun 1919 ia menduduki posisi komisaris CSI. ((Mu’arif, Benteng Muhammadiyah; Sepenggal Riwayat dan Pemikiran Haji Fahcrodiin: 2010).

 

Perseteruan kubu SI putih (untuk menyebut kelompok yang berlandaskan Islam di SI) dengan kubu SI Merah (kelompok kiri dalam SI) berlangsung ‘tarik ulur.’ Perseteruan sengit yang terkadang diselingi rekonsiliasi. Rekonsiliasi ini terutama atas inisiatif Tjokroaminoto, yang memang memiliki jiwa pemersatu di Sarekat Islam. Namun perpecahan semakin kentara ketika ISDV mengubah namanya menjadi Perserikatan Komunis di India atau Parij der Komunisten in Indie (PKI) pada 23 Mei 1920 dan memilh Semaoen sebagai ketua pertamanya. Terlebih, Lenin pada 1919 menyebutkan gerakan pan-Islam sebagai hal yang harus diperangi. Sontak hal ini menimbulkan reaksi di Central Sarekat Islam (CSI). Hal ini semakin menguatkan dugaan mereka bahwa kelompok kiri hanya ingin memanfaatkan SI. Dan ini memang dibuktikan dengan tulisan Sneevliet sendiri di De Tribune pada April 1920, yang menyebutkan, “…It is the task of the revolutionaries to develop the Sarekat Islam into a communist organisation; an organisation which will be a member of the Third International.” Haji Fachrodin menganggap hal ini sebagai aksi untuk memecah-belah Sarekat Islam. (Dov Bing, Lenin and Sneevliet: The Origins of The Theory of The Colonial Revolution in The Dutch East Indies: 2009)

 

Sebetulnya Haji Fachrodin bukanlah orang yang asing dengan kelompok kiri. Sejak 1914 ia telah bergabung dengan Indische Journalisten Bond (IJB), sebuah perkumpulan wartawan pribumi yang dimotori oleh Mas Marco Kartodikromo, seorang jurnalis kiri dan berafiliasi kepada ISDV. Haji Fachrodin  juga sempat menjadi jurnalis di Doenia Bergerak, sebuah organ media milik IJB. Haji Fachrodin bahkan sempat menjadi anggota ISDV cabang Jogjakarta. Melalui keanggotannya inilah ia dapat berhubungan erat dengan tokoh-tokoh kiri seperti Semaoen, dan Alimin. Alimin bahkan sering menginap di rumah H. Fachrodin jika sedang berada di Jogjakarta. Alimin disebutkan pernah berusaha membujuk H. Fachrodin untuk ikut jalan marxisme, namun ditampiknya.  Ia juga menulis artikel yang membela Sneevliet, ketika pemerintah kolonial mengusir Sneevliet dari Hindia Belanda pada tahun 1918. (Mu’arif: 2010)

 

Atas inisiatif Tjokroaminoto, pada kongres SI tahun 1921 perseteruan SI merah dan putih dapat diredam. Beberapa butir kesepakatan berhasil dicetuskan, antara lain kesepakatan untuk membela gerakan buruh dan menekankan Sarekat Islam sebagai organisasi yang berlandaskan Islam. Namun hal ini tak berlangsung lama. Di luar, melalui media massa masing-masing, pernyataan saling serang tetap berlanjut. Haji Fachrodin bahkan menyebarkan brosur yang menolak komunisme. Dan akhirnya perseteruan ini tak lagi dapat dielakkan ketika kubu SI putih memutuskan untuk melakukan disiplin organisasi. Hal ini berarti, bagi anggota PKI tak dapat lagi menikmati keanggotan ganda dengan menjadi anggota CSI. Mereka harus memilih salah satu diantara kedua organisasi tersebut. (Ruth McVey, Kemunculan Komunisme Indonesia: 2009)

Sejak disiplin organisasi ini, PKI tak lagi dapat menjalankan strategi infiltrasi ke dalam Sarekat Islam. Namun di bawah Tan Malaka, PKI tetap berusaha menjalin kerjasama dengan SI. Seorang tokoh Muhammadiyah, yang juga adik dari Haji Fachrodin, Ki Bagus Hadikusumo, menyambut kerjasama ini. Ia datang sebagai pembicara pada kongres PKI tahun 1922. (McVey: 2009) Patut dipahami, bahwa PKI pada kala itu dianggap sebagai sesama organsisasi perjuangan melawan kolonialisme. Penolakan kepada PKI saat itu lebih kepada ikut sertanya PKI di dalam tubuh Sarekat Islam, dan hendak membawa SI keluar dari landasan Islam.

Rekonsiliasi yang berlangsung hanya bertahan sebentar. Serangan-serangan dari kubu PKI datang lebih tajam, bahkan langsung ditujukan kepada H. Fachrodin dan Muhammadiyah. H. Fachrodin dituduh sebagai agen-agen kapitalis. Sebenarnya H. Fahcrodin termasuk figur yang menentang kapitalisme dan penghisapan kepada rakyat. Ia seringkali membela nasib kaum buruh, baik melalui media maupun melalui organisasi kaum buruh seperti Personeel Fabriek Bond (PFB), Persatoean Pergerakan Kaoem Boeroeh (PPKB). Ia bahkan pernah dipenjara selama tiga bulan oleh pemerintah kolonial karena mengkritik praktek perkebunan di Hindia Belanda. Tulisannya yang dimuat Srie Diponegoro, menyebutkan, ”Kebon Teboe jang ditanam diatas tanah kita dengan djalan jang koerang menjenangkan, sehingga menjebabkan kelaparannja anak-anak boemi...“ (Mu’arif: 2010)

Serangan H. Misbach dan SI Merah

Meski banyak kontribusi dan sikap H. Fachrodin menentang kapitalisme, namun tuduhan-tuduhan agen kapitalis, munafik, dan tukang fitnah,  itu dilemparkan juga kepada dirinya dan Muhammadiyah. Tuduhan yang keras ini umumnya datang dari Haji Misbach seorang anggota PKI yang pernah ditahan pemerintah kolonial. Haji Misbach sebetulnya bukan orang asing bagi Muhammadiyah. Ia adalah mantan aktivis Sidiq Amanah Tabligh Vatonah (SATV), organisasi keagamaan di Surakarta yang masih terkait dengan KH Ahmad Dahlan. Haji Misbach semakin condong ke kiri setelah keluar dari tahanan. Ia kemudian bergabung dengan PKI dan dengan gencar mengkritik Muhammadiyah.

Penolakan Muhammadiyah terhadap komunisme dianggap Misbach sebagai racun. Dalam tulisannya yang berjudul Islamisme dan Komunisme, Haji Misbach menganggap Sarekat Islam dan Muhammadiyah sebagai racun. ”Sebaliknya untuk orang yang [...] mengakunya, seperti: Mohammadiyah dan SO Tjokro, musti saya keterangan hal [...] dianggap sebagai racun saja. Keduwa golongan ini (M.D dan Tjokrio) bukannya mereka menggerakkan agama [...] yang sejati...“ (Islamisme dan Komunisme dalam Haji Misbach Sang Propagandis; 2016)

Serangan Haji Misbach melalui Islam Bergerak dan Medan Moeslimin sebagai corongnya memang tajam dan keras sekali. Dalam Medan Moeslimin No. 24 tahun 1922 misalnya, Haji Misbach menulis,

”Nah sekarang tuan-tuan pembaca bisa  fikir sendiri, sudah terang sekali H. A. Dahlan dan sikap Muhammadiyah pada waktu sekarang ini perlu membuang IMAM  kepada Al-quran, bisa juga H. A. Dahlan menjalankan sikapnya kanjeng Nabi Muhammad, sebab Kanjeng Nabi tidak suka menjilat kepada orang Musyrik di Mekkah,...“ (Verslag dalam Haji Misbach Sang Propagandis; 2016)

Dibalik tajam dan kerasnya tulisan Haji Misbach yang mewakili SI merah, seringkali hanya berupa tuduhan. Meski H. Fahcrodin sudah terang menolak apa yang disebutnya sebagai ’kapitalisme jahat,‘ seperti yang terdapat dalam tulisannya yang berjudul Pelita-Fikiran Bagi Jang Terkandoeng dalam Kemadjoean, H. Fahcrodin tetap dituduh sebagai agen kapitalis. Hal ini bermula dari upaya H. Fahcrodin meminjamkan uang untuk Perserikatan Pegawai Pegadaian Boemipoetra (PPPB). KH. Ahmad Dahlan lewat Muhammadiyah mencarikan pinjaman bagi PPPB. Dan Muhammadiyah terpaksa meminjam uang dan menanggung bunganya. Hal ini langsung diserang oleh Haji Misbach yang menganggapnya melakukan praktek rentenir dan mencap Haji Fahcrodin sebagai ´agen kapitalis.‘(Mu’arif : 2010)

Tak hanya itu, Haji Fahcrodin juga dituduh sebagai penipu oleh Islam Bergerak. Mereka menuduh Haji Fachrodin membohongi anggotanya dalam hal pengumpulan harta sedekah dan zakat. Muhammadiyah Pekalongan pun membantah kabar ini sebagai kabar bohong. Lain waktu H. Misbach menebar fitnah seputar kepergian H. Fachrodin ke Kairo. Majalah Soewara Moehammadiyah pun membantah fitnah ini.

Menanggapi serangan-serangan ini, Haji Fachrodin dalam Kongres Muhammadiyah tahun 1925, mengingatkan para peserta kongres. Majalah Soewara Moehaammadiyah No. 6 tahun 1925 melaporkan pernyataan Haji Fahcordin tersebut,

”Zaman baroe, fikiran orang baroe djoega. Moesoeh-moesoeh Islam memakai djalan baroe djoega, dengan djalan jang roepa-roepa sekali. Kita haroes membaharoe roh kita lagi, djangan senantiasa banjak loepa. Koerang hati-hati itoe menjebabkan keroegian Islam. Djangan kita salah, mana jang memang teman dan mana jang memang boekan...“

Jalannya sejarah kemudian memisahkan keduanya. H. Misbach diasingkan ke Manokwari tahun 1924. PKI yang terus bersikap radikal semakin ditekan pemerintah kolonial dan akhirnya melakukan pemberontakan pada tahun 1926 dan 1927. Muhammadiyah sebaliknya, mengingat rezim Gubernur Jenderal Dirk Fock yang bersikap  amat keras,  menjauhi sikap konfrontasi. Pada masa itu, Muhammadiyah menganggap PKI sebagai bagian dari elemen perjuangan anti penjajah. Tetapi, terhadap ideologi komunisnya dan infiltrasinya ke gerakan Islam (Sarekat Islam), Muhammadiyah menolaknya. []

Sumber: Majalah Tabligh edisi September 2016

banner 468x60
author
Redaktur Pelaksana Majalah Tabligh. Pendiri Komunitas Homeschooling Keluarga Muslim (HSKM) dan Komunitas Ekonomi Islam Indonesia (Koneksi Indonesia)
No Response

Leave a reply "H. FACHRODIN, MUHAMMADIYAH, & SI MERAH"