BUYA HAMKA DAN PANCASILA

No comment 124 views


Oleh: Beggy Rizkiyansyah
(Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa)

Pancasila sejak awal digali oleh Sukarno dan dilengkapi oleh Panitia Sembilan di tahun 1945, hingga kini tak kehilangan perbincangannya di masyarakat. Sejak masa kemerdekaan, rezim orde lama, orde baru, Pancasila terus diberikan makna yang berbeda-beda. Jika Pancasila awalnya sebagai dasar negara merupakan sebuah landasan sementara sebelum sidang konstituante, maka di rezim orde lama, bahkan hingga Partai komunis pun memberikan tafsir sendiri tentang Pancasila. Di rezim Orde baru, Pancasila sampai perlu diberikan kata ’Kesaktian‘ agar dapat menjadi penopang tegaknya rezim tersebut. Kini Pancasila acapkali menjadi semacam alat pukul yang ditujukan bagi sebagian gerakan Islam. Sedikit-sedikit dibenturkan dengan Pancasila. Pancasila ditafsirkan berbeda-beda oleh asing-masing kelompok.

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lazim kita kenal dengan Buya Hamka, seorang ulama Indonesia, sastrawan, dan sejarawan, yang kontribusinya tak hanya diakui tanah air, tetapi juga hingga ke Timur tengah, adalah salah satu sosok yang bergelut dengan pemikiran mengenai Pancasila. Hidupnya yang merentang dari zaman penjajahan, kemerdekaan, revolusi hingga orde baru, membuatnya mengecap berbagai pengalaman yang mewarnai dirinya dalam memandang Pancasila.

Buya Hamka mengingatkan dalam bahwa semangat melawan penjajahan, keberanian yang timbul hingga mengobarkan semangat berani mati, syahid adalah akibat kecintaan pada Allah yang bersemayam di dalam dada, bukan Pancasila,

“Itulah yang kami kenal, jiwa atau yang menjiwai proklamasi 17 Agustus, bukan Pancasila! Sungguh Saudara Ketua. Pancasila itu belum pernah dan tidak pernah, karena keistimewaan hidupnya di zaman Belanda itu menggentarkan hati dan tidak pernah dikenal, tidak popular dan belum pernah dalam dada ini sekarang, Saudara Ketua, bukanlah Pancasila, tetapi Allahu Akbar! Bahkan sebagian besar dari pembela Pancasila sekarang ini, kecuali orang-orang PKI, yang nyata dalam hati sanubarinya sampai saat sekarang inipun, pada hakekatnya adalah Allahu Akbar!”

Buya kemudian melanjutkan bahwa kalimat takbir, bukan saja mengandung Pancasila, tetapi segala sila,

“Allahu Akbar yang tertulis dalam dada saudara itulah sekarang yang kami mohon direalisasikan. Allahu Akbar yang di dalamnya terkandung segala macam sila, baik panca, atau sapta, atau ika, atau dasa, Allahu Akbar  yang menjadi pertahanan saudara ketika saudara pernah menghadapi bahaya besar! Allahu Akbar yang menjadi pertahanan saudara disaat maut telah melayang-layang diatas kepala saudara. Allahu Akbar, yang kepada-Nya putra saudara yang tercinta saudara serahkan! Allahu Akbar yang dengan dia saudara sambut waktu lahir dari perut ibu.” (H. Abdul Malik Karim Amrullah, Berbeda dalam Mencari Kebenaran dalam Pancasila dan Islam; Perdebatan antar Parpol dalam penyusunan Dasar Negara di Dewan Konstituante, 2008)

Buya Hamka menegaskan, perjuangan menjadikan Islam sebagai dasar Negara bukan mengkhianati Indonesia, malah sebaliknya, hanya meneruskan wasiat dari para pejuang dan pendahulu bangsa seperti Sultan Hasanuddin, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Cik Di Tiro, Maulana Hasanuddin Banten, Pangeran Antasari dan lainnya. Menjadikan Islam sebagai dasar Negara bukanlah demi kepentingan partai atau fraksi Islam di Konstituante, tetapi untuk anak cucu yang menyambung perjuangan nenek moyang. (H. Abdul Malik Karim Amrullah, Berbeda dalam Mencari Kebenaran dalam Pancasila dan Islam; Perdebatan antar Parpol dalam penyusunan Dasar Negara di Dewan Konstituante, 2008)

Partai-partai Islam sejalan dalam memperjuangkan Islam sebagai dasar Negara. Kebulatan tekad tersebut membentur partai-partai lain yang mendukung Pancasila sebagai dasar Negara. Tak ada kata sepakat diantara kedua pihak. Kebuntuan ini membuat habis kesabaran Sukarno. Akhirnya Konstituante pun dibubarkan, dan Dekrit Presiden mengembalikan Pancasila untuk ditetapkan sebagai dasar negara, dengan Piagam Jakarta yang menjiwai UUD ’45.

Runtuhnya rezim orde lama dan bangkitnya rezim orde baru dibawah Suharto tak memberikan kesempatan untuk memperjuangkan kembali Islam sebagai dasar Negara. Bahkan untuk memperjuangkan Piagam Jakarta pun rezim orde baru tak beri kesempatan sedikit pun. Berada dalam situasi tersebut, ada perubahan sikap dari para tokoh Islam dalam memandang Pancasila pasca runtuhnya orde lama dan munculnya orde baru. Perubahan sikap ini juga yang kita lihat pada Buya Hamka.

Buya Hamka, yang pernah merasakan represifnya rezim orde lama di balik jeruji penjara, memilih sikap untuk menafsirkan Pancasila sesuai dengan jiwa Islam. Ketika memberikan khotbah Iedul Fitri di Istana Negara tahun 1968, Buya Hamka memberikan makna Pancasila, dengan jiwa Islam. Sila pertama, Ketuhanan Maha Esa, menurut Buya Hamka adalah Tauhid, Lailaha illalah.  Ketuhanan Maha Esa adalah Tauhid. Sila inilah yang menjadi sumber empat sila lainnya. (Hamka, 2002, Pancasila akan Hampa Tanpa Ketuhanan yang Maha Esa Dalam Dari Hati ke Hati)

Apabila manusia telah mempercayai Tuhan yang satu (Maha Esa), maka secara logis dan pasti, orang tersebut akan menghargai dasar sila kedua, yaitu peri kemanusiaan. Mengutip surat Al Hujarat ayat 14, Buya Hamka mengatakan dengan percaya pada Ketuhanan Yang Maha Esa pula, maka manusia akan menimbulkan rasa kebangsaan. Rasa kebangsaan itu adalah rasa mencintai tanah air, seperti yang sudah diteladani para pejuang Islam sejak zaman dahulu. Bukan rasa kebangsaan yang chauvinis dan bertentangan dengan peri kemanusiaan. Adab adalah kata yang berasal dari kosa kata arab yang mendapat nilai-nilai Islam.

Buya pun menjelaskan, Ketuhanan yang Maha Esa memberikan konsekuensi logis bagi manusia untuk bermusyawarah untuk mencapai mufakat. Kata mufakat dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa arab. Sebuah kata yang lagi-lagi mendapat nilai-nilai Islam.

Menurut Buya Hamka, Tauhid (beriman pada Tuhan yang maha Esa), sudah pasti menyuruh manusia untuk berbuat adil. Kata Al-Adl adalah salah satu dari nama Allah. Allah menyuruh manusia untuk mengerjakan amal dan kebaikan berjama’ah.

Penafsiran Pancasila dalam cahaya Islam, bagi Buya Hamka bermuara pada sila pertama, yang mencerminkan agama tauhid (Islam).  “Agama yang mengakui ke-Esa-an Allah yang mutlak dan dianut oleh mayoritas bangsa Indonesia. “ (Hamka, 2002, Ketuhanan yang Maha Esa Dalam Dari Hati ke Hati)

Tak ada penafsiran lain dari Ketuhanan yang Maha Esa, melainkan Tauhid. Buya menekankan,

“Tak ada kata lain, melainkan Allah, dan Allah itu Esa adanya. Jelas sekali dalam anggapan segala agama, bahwa Allah itu Esa. Dan jelas sekali disini bahwa sumber utama yang memberikan inspirasi sehingga timbulnya hasrat merdeka ialah Allah itu sendiri.” (Hamka, 2002, Ketuhanan yang Maha Esa Dalam Dari Hati ke Hati)

Sesungguhnya bukan Buya Hamka saja yang memaknai sila pertama sebagai Tauhid, tetapi juga Ki Bagus Hadikusumo dan Mohammad Hatta (seorang tokoh yang dalam perdebatan dasar Negara di Sidang BPUPKI termasuk dari kelompok nasionalis sekular). Maka sudah pasti Buya Hamka menolak tafsir Pancasila yang sekular.

Menurut Buya Hamka, “Di Negara kita ini tidak bisa sekularisme, kalau kita hendak berpegang pada UUD 1945, terutama dasar negara Pancasila. Janganlah dicoba sekali lagi, hendak membuat Pancasila kosong melompong, dengan menjadikan negara kita sekuler.” Menurut Buya justru dengan percaya pada Tuhan yang Maha Esa, maka Indonesia terhindar menjadi negara sekular. (Hamka, 2002, Dengan Sekularisasi Pancasila akan Kosong Dalam Dari Hati ke Hati)

Perubahan pandangan Buya Hamka terhadap Pancasila, tak bisa kita lepaskan dari situasi dan kondisi bangsa. Saat ada kesempatan untuk mengemukakan Islam sebagai dasar negara secara konstitusional, maka Buya Hamka tampil ke muka untuk memperjuangkannya. Saat ia menghadapi pemerintah orde baru yang tidak membuka kemungkinan untuk membicarakan kembali soal dasar negara, Buya Hamka memberikan penafsiran Pancasila yang sesuai dengan ajaran Islam. Penulis berpendapat, inilah cara Buya Hamka memperjuangkan syariat Islam. Bagi Buya,

“Orang Islam tidaklah apriori meminta agar Negara Republik Indonesia ini agar bernama Republik Indonesia Islam, sebab meskipun disini orang takut mendengar nama, namun ditinjau oleh orang luar, negeri ini bukan negeri Kristen, dan bukan negeri komunis, tetapi negeri orang Islam. Yang penting bagi kita bukan nama, tapi pengakuan di negeri ini, Islam adalah mayoritas, diberi hak melakukan kewajiban menjalankan syariat Islam dalam kalangan kita sendiri.” (HAMKA, 2002, Mengapa mereka Masih Ribut? “Mari kita Berpahit-pahit, Kaum Muslimin Belum Puas atas Kemerdekaan Ini” Dalam Dalam Dari Hati ke Hati)

Baik situasi ketika egara memungkinkan untuk memperdebatkan dasar Negara secara konstitusional, atau ketika Negara tidak memberikan jalan untuknya, Buya Hamka tetap berjalan di atas jalan jihad fi sabilillah memperjuangkan syariat Islam di Indonesia, terang dan terbuka. Maka kita renungkan dan resapi kata-kata Buya Hamka,

Negara kita berdasar Pancasila; dalam negara berdasar Pancasila itu, kita kaum muslimin wajib mengisinya dengan cinta yang telah kita terima dari langsung dari Allah dan Rasul.

Namun tidak!-demi Tuhanmu-tidaklah mereka beriman, sebelum engkau jadikan hakim, pada barang yang mereka perselisihkan diantara mereka, kemudian itu tidak mereka dapati dalam diri mereka sendiri rasa keberatan pada apa yang engkau putuskan, dan mereka menyerah sebenar-benar menyerah.

Itulah dia iman, dan itulah dia hidup.

Kalau tidak, sama dengan artinya mati, walaupun nafas masih turun naik.” (HAMKA, 2002, Cintakan Rasul SAW dalam Dalam Dari Hati ke Hati)

Oleh karena itu, Buya juga mengingatkan kita untuk berterus terang tampil ke muka dan menyatakan pendirian sebagai umat Islam di Indonesia;

“Mari kita berpahit-pahit, kaum muslimin belum pernah merasa puas dalam kemerdekaan negeri ini kalau kewajiban menjalankan syariat Islam dalam kalangan pemeluknya seperti tercantum dalam pembukaan UUD 1945 belum menjadi kenyataan.”

(HAMKA, 2002, Mengapa mereka Masih Ribut? “Mari kita Berpahit-pahit, Kaum Muslimin Belum Puas atas Kemerdekaan Ini” Dalam Dalam Dari Hati ke Hati)

*) Diterbitkan pada Majalah Tabligh edisi Agustus 2016

banner 468x60
author

Redaktur Pelaksana Majalah Tabligh. Pendiri Komunitas Homeschooling Keluarga Muslim (HSKM) dan Komunitas Ekonomi Islam Indonesia (Koneksi Indonesia)

No Response

Leave a reply "BUYA HAMKA DAN PANCASILA"